Tag-Archive for » indonesia «

Saturday, November 28th, 2009 | Author: bangaswi

Pada Jum’at sore di bulan November 2005, sebuah pemandangan istimewa (bahkan bisa dikatakan luar biasa) terjadi di Jl. Cikapayang, tepatnya di bawah jembatan layang Pasupati. Ratusan orang beragam usia dan juga sepeda dari berbagai jenis dan merek berkumpul bersama dalam rangka mengkampanyekan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan. Adalah Akhmad Riqqi, staf pengajar di Jurusan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, yang mencetuskan ide itu bersama beberapa kawan dan juga mendirikan Bike Commuter Bandung (BCB), sebuah kelompok sepeda yang anggotanya juga merupakan anggota dari beberapa kelompok sepeda yang sudah ada.

“Sejak BBM naik, memang banyak yang pindah ke motor. Tapi motor juga kan masih bergantung pada BBM. Kita ingin memperlihatkan sepeda bisa menjadi alternatif transportasi supaya Kota Bandung bersih,” ujar Akhmad Riqqi mengenai alasan mengapa kegiatan itu digaungkan. Apalagi, lanjutnya, ada dua faktor penting yang sangat berkaitan, yaitu akibat kenaikan harga BBM dan juga kesadaran untuk hidup sehat dengan menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan (karena tanpa BBM). Sepeda sebagai moda transportasi pun bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk bersekolah, kuliah, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang berkaitan. Makanya kegiatan ini memakai slogan “Bike to Work, Bike to Campus, Shared the Road”.

more…

Friday, October 09th, 2009 | Author: bangaswi

Sudah seharusnya kita bersyukur bahwa pada akhirnya dunia telah mengakui bahwa batik adalah karya sejati bangsa Indonesia dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia (the world cultural heritage of humanity from Indonesia) oleh UNESCO pada 02 Oktober 2009. Saya sendiri alhamdulillah pada hari itu bisa meramaikan kampanye batik dengan menggunakan sepeda bersama istri, kawan-kawan B2W Bandung, Paguyuban Sapeda Baheula (PSB), dan Ibu Sendi Yusuf (istri Wagub Jabar) berkeliling Kota Bandung pada Jumat pagi.

Kata batik berasal dari kata ambatik (Jawa) yang secara teknis berarti menuliskan atau menorehkan titik-titik ke selembar kain mori dengan menggunakan canting yang berisi lilin panas. Dalam bahasa Jawa, kata batik diartikan sebagai anulis atau anyerat yang berarti menulis, sedangkan arti yang lebih luas lagi disebut menggambar.

more…

Thursday, October 01st, 2009 | Author: bangaswi

Salah satu faktor kunci yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan ekonomi kreatif—ekonomi yang berbasiskan sumber daya intelektual manusia—adalah membangun budaya penghargaan terhadap hasil karya intelektual orang atau pihak lain.

—-“Gila banget, La!” seru Rani dengan wajah berseri-seri. Dia baru saja pulang setelah tadi pagi pamit untuk membeli buku. “Gue nggak nyangka harganya semurah ini,” ujarnya sambil mengeluarkan buku supertebal dari dalam tasnya.
—-Karla hanya menaikkan kedua alisnya saat Rani meletakkan buku berwarna merah itu di depannya. Suara keras pun bergema, bersamaan dengan debu tipis yang beterbangan di sekitar buku tersebut.
—-
“Kamus Besar Bahasa Indonesia,” ucap Karla membaca tulisan yang terpampang besar-besar di halaman muka buku yang sudah dipegangnya itu. Dia memperkirakan kalau ketebalan buku tersebut mencapai 6 cm. Bisa dipakai buat bantal tuh, ujar suara hati Karla iseng.

more…

Category: Penerbitan  | Tags: , , , ,  | 24 Comments
Thursday, August 27th, 2009 | Author: bangaswi

Beberapa orang seringkali menganggap bahwa penerbitan adalah percetakan dan begitu pula sebaliknya. Padahal, keduanya tidak hanya berbeda secara pelafalan tetapi juga berbeda secara pasti; bahwa keduanya adalah dua perusahaan yang berdiri sendiri kendati keduanya tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan.

Menurut KBBI, penerbit adalah perusahaan dan sebagainya yang menerbitkan buku, majalah, dan sejenisnya; sedangkan penerbitan adalah proses, cara, atau perbuatan menerbitkan. Percetakan sendiri bermakna tempat atau perusahaan yang berhubungan dengan masalah cetak-mencetak buku, majalah, dan sejenisnya.

more…

Tuesday, July 21st, 2009 | Author: bangaswi

Sangat menarik membaca tulisan Ajip Rosidi pada kolom Stilistika di HU Pikiran Rakyat (11/07) yang menyatakan bahwa Presiden SBY banyak sekali menggunakan kata-kata dan ungkapan bahasa Inggris di Forum Kadin. Namun sanggahan yang diberikan oleh Ketua Partai Demokrat dalam acara “Apa Kabar Indonesia Malam” di salah satu stasiun TV swasta sehari sesudahnya adalah, “Tetapi karena beliau berbicara di Forum Kadin niscaya para anggota Kadin yang hadir dapat mengerti apa yang dikatakannya.”

Menurut Ajip Rosidi, masalahnya bukan pada mengerti atau tidaknya para hadirin tetapi tidaklah pada tempatnya punya presiden yang berbicara dengan sebentar-sebentar diselingi atau dicampur dengan bahasa Inggris, seakan-akan bahasa Indonesia tidak cukup mampu atau tidak cukup terhormat untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya. Ajip Rosidi kemudian membandingkannya dengan Bung Karno dan Bung Hatta yang boleh dikatakan menguasai bahasa Belanda dan Inggris jauh lebih baik, tetapi kalau berbicara dalam forum resmi tetap menjaga hanya berbicara dalam bahasa Indonesia. Terkecuali istilah-istilah yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

more…