<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>All About Writing</title>
	<atom:link href="http://bangaswi.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangaswi.com/blog</link>
	<description>... just write, design, and love the earth ...</description>
	<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 03:30:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menulis Lebih Baik [Menulis]</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/03/11/menulis-lebih-baik-menulis/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/03/11/menulis-lebih-baik-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 03:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Yuk, Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[baik]]></category>

		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[pesan]]></category>

		<category><![CDATA[tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Menurut sobat baraya, mana yang lebih penting: menulis lebih baik atau lebih baik menulis? ^_^
Di sini, saya tidak akan membahas mana yang lebih penting karena masing-masing akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Jujur, saya awalnya bingung mau menulis apa, tetapi kemudian setelah menimbang beberapa hal, akhirnya tema inilah yang dipilih kali ini. Ya, menulis lebih baik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut sobat baraya, mana yang lebih penting: menulis lebih baik atau lebih baik menulis? ^_^</p>
<p>Di sini, saya tidak akan membahas mana yang lebih penting karena masing-masing akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Jujur, saya awalnya bingung mau menulis apa, tetapi kemudian setelah menimbang beberapa hal, akhirnya tema inilah yang dipilih kali ini. Ya, menulis lebih baik. Apabila sobat baraya telah menulis baik, cobalah menulis lebih baik lagi, sehingga akan menghasilkan tulisan yang baik.</p>
<p>Tulisan yang baik memiliki banyak ciri, apalagi jika mengambil beberapa pendapat para pakar penulis di dalam maupun luar negeri. Akan tetapi, dari semua ciri itu, saya lebih suka menyoroti dua ciri saja, yaitu: bahwa tulisan yang baik harus <strong>memiliki tujuan</strong> dan tulisan yang baik harus <strong>mampu berkomunikasi</strong> atau menyampaikan <strong>pesan dengan jelas</strong>!</p>
<p><span id="more-468"></span></p>
<p><a href="http://www.kabarindonesia.com/" target="_blank">Hendra Sugiantoro</a> menuliskan bahwa dengan memiliki tujuan, aktivitas menulis kita akan memiliki arah dan target yang jelas. <strong>Tujuan</strong> itulah yang membingkai jiwa kepenulisan kita untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Tanpa adanya arah dan target (atau disebut juga sebagai tujuan) maka tulisan kita pun akan seperti layang-layang putus, tak jelas mau kemana. Seperti halnya sebuah perjalanan, tentu akan lebih tenang dan nikmat jika kita mengetahui tujuan perjalanan itu. Minimal ada patokan-patokan yang jelas bahwa ketika kita akan ke sana, saya akan ke sini, lalu kita bertanya. Kurang lebih seperti itu.</p>
<p>Dari semua tujuan yang dimiliki oleh setiap penulis, jelas lebih mulia kalau tujuan kita menulis adalah sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran (A. Teeuw) atau menulislah sesuatu yang akan membahagiakan diri kita di akhirat nanti (Ali bin Abi Thalib). Bahasa sebagai bagian dari keindahan (sehingga saya sering mengatakan kepada siapapun bahwa menulis ada seni dan menjadi bagian dari dunia desain) tentu tidak akan terpisahkan dari kebenaran (Baharudin Ahmad). Hal ini sesuai dengan <strong>tujuan kesusastraan</strong>, yaitu untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan (Harun Daud).</p>
<p>Inilah tujuan menulis yang paling mulia, yaitu mengandung <strong>misi profetik</strong>. Hendra menuliskan kembali bahwa ada lima tujuan menulis dalam misi profetik: mengikat ilmu, menyampaikan ilmu, menyeru kepada kebaikan (<em>amar ma’ruf</em>) atau humanisasi dalam istilah Kuntowijoyo, mencegah kemungkaran (<em>nahi munkar</em>) atau liberasi (Kuntowijoyo), dan meneguhkan keimanan manusia.</p>
<p>Sebuah karya desain sebagus apapun, tanpa terselip pesan yang jelas, pada akhirnya akan berakhir sebagai tumpukan portofolio yang hanya berdampak pada si desainer itu sendiri tanpa memberi kontribusi apa-apa bagi lingkungannya (<a href="http://blog.ardyansah.com/" target="_blank">Ardyansah</a>). Menulis sebagai bagian dari desain pun juga harus seperti itu. Sebuah tulisan jelas harus memiliki pesan sehingga mampu berkomunikasi dengan pembacanya. Di sinilah pentingnya bagi penulis untuk menganggap bahwa pembaca itu cerdas sehingga kita pun harus menulis dengan kata-kata yang cerdas, bukan menggurui. Perlu dicatat, keindahan kata-kata tidak menjamin bahwa tulisan itu menjadi baik, tetapi tulisan yang baik harus bisa menyampaikan pesan yang jelas, sesederhana apapun tulisan itu.</p>
<p><a href="http://diniauliya.multiply.com/" target="_blank">Dini Auliya</a> mengatakan bahwa tulisan itu harus memiliki ruh sehingga dapat memberikan efek hidup, suara, dan kekuatan pesan. Ruh ini pun juga harus disokong oleh filosofi yang kuat. Filosofi ini tidak selalu ditunjukkan dengan padatnya nukilan atau berhamburannya kutipan dari tokoh atau buku, tetapi lebih didasarkan kepada prinsip-prinsip argumentasi yang mendasari segala sikap, sudut pandang, penilaian, keterlibatan emosi, dari setiap sekuen cerita, pokok pikiran, atau adegan-adegan dalam tulisan.</p>
<p>Jadi, sudahkah tulisan kita memiliki tujuan? Sudahkah tulisan kita mengandung pesan yang jelas dan dapat berkomunikasi dengan pembaca? Yuk, lebih baik menulis lebih baik.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/03/11/menulis-lebih-baik-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fakta-Fakta Bike to School</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/03/04/fakta-fakta-bike-to-school/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/03/04/fakta-fakta-bike-to-school/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 03:52:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cycling World]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[bike to school]]></category>

		<category><![CDATA[fakta]]></category>

		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[
73% orangtua tidak pernah berpikir bahwa anak-anak mereka memiliki cukup latihan fisik selama di sekolah.
Anak-anak yang diantar ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor menghabiskan waktunya di atas kendaraan tersebut rata-rata 2 jam 35 menit dalam satu minggu, yang setara dengan 8% dari waktu sekolah mereka. Bandingkan dengan 5% dari waktu sekolah untuk kegiatan fisiknya (olahraga resmi).
67% [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li>73% orangtua tidak pernah berpikir bahwa anak-anak mereka memiliki cukup latihan fisik selama di sekolah.</li>
<li>Anak-anak yang diantar ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor menghabiskan waktunya di atas kendaraan tersebut rata-rata 2 jam 35 menit dalam satu minggu, yang setara dengan 8% dari waktu sekolah mereka. Bandingkan dengan 5% dari waktu sekolah untuk kegiatan fisiknya (olahraga resmi).</li>
<li>67% orangtua melihat adanya peningkatan kesehatan dan kebugaran saat anak-anak mereka bersepeda ke sekolah.</li>
<li><span id="more-465"></span>59% orangtua yang anak-anaknya bersepeda ke sekolah secara teratur mengatakan bahwa ada perkembangan fisik mereka yang lebih sehat dan bugar. Seperempatnya mengatakan juga ada perkembangan yang positif pada mental mereka.</li>
<li>Lebih banyak ayah (28%) daripada ibu (20%) yang melihat kalau bersepeda telah meningkatkan rasa percaya diri anak-anak mereka.</li>
<li>36% orangtua yang menyadari bahwa anak-anak mereka yang bersepeda ke sekolah telah mengurangi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi.</li>
<li>Kurang lebih 81% anak-anak menempuh perjalanan kurang dari lima mil (8 km) untuk ke sekolah, jarak yang bisa ditempuh dengan bersepeda, tetapi hanya 2% yang melakukannya. Jika ada fasilitas seperti <em>bikelane</em>, 37% orangtua akan mengijinkan anak-anak mereka untuk bersepeda ke sekolah.</li>
<li>Di Inggris, 8,3 juta anak-anak pergi ke sekolah setiap hari, tetapi hanya sebagian kecil saja yang bersepeda ke sekolah (di bawah 2%), meskipun fakta di sana menunjukkan bahwa satu dari tiga anak ingin sekali bersepeda ke sekolah.</li>
<li>Penelitian di Amerika pun menunjukkan bahwa ada hubungan yang selaras antara aktivitas fisik dengan hasil tes di sekolah. Artinya, makin banyak aktivitas fisik yang dijalani oleh seorang murid, makin baik pula hasil tesnya.</li>
<li>Para orangtua yang memiliki anak 11-18 tahun dapat menghemat uang sampai 520 juta poundsterling (1 poundsterling = 6.000 rupiah) setahun bagi mereka yang anak-anaknya bersepeda ke sekolah daripada menggunakan kendaraan bermotor.</li>
<li>Mobil mengeluarkan 21% dari emisi CO di Inggris (salah satu penyebab terjadinya efek <em>global warming</em>), akibatnya satu dari tujuh anak-anak di Inggris mempunyai penyakit asma yang diakibatkan oleh polusi kendaraan bermotor.</li>
<li>90% anak-anak mendapatkan sepeda dari orangtuanya dan lebih dari 30% ingin bersepeda ke sekolah, tetapi hanya 1% yang melakukannya.</li>
<li>Satu dari empat perjalanan mobil memang <em>bike-friendly</em> tetapi hanya mereka yang menempuh perjalanan 2 mil (3,2 km) atau kurang.</li>
<li>Jumlah anak-anak yang diantar ke sekolah dengan kendaraan bermotor bertambah dua kali lipat (tahun 2006) sejak 1985.</li>
<li>Dengan bersepeda, kita dapat melakukan perjalanan empat kali lebih cepat daripada berjalan dengan energi yang sama.[]</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/03/04/fakta-fakta-bike-to-school/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Napas Air Mata</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/napas-air-mata/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/napas-air-mata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 11:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resensi [Cerpen]]]></category>

		<category><![CDATA[air mata]]></category>

		<category><![CDATA[anti korupsi blogpost competition]]></category>

		<category><![CDATA[ceritainspirasi.net]]></category>

		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[===Rumah sederhana. Dan matahari pun begitu bangga bisa menyinarinya, bahkan pada seluruh permukaan bumi yang penghuninya banyak yang tidak menyadari kehangatannya. Kehadirannya. Kelopak-kelopak bergerak dalam hitungan menit untuk membuka, memperlihatkan sari dan esensialnya sebagai bunga. Merekah dan mengundang kumbang-kumbang yang berjuang demi keluarganya. Bergerak dan mendengung, di antara tangkai-tangkai kecil yang begitu kokoh menyangga daun, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">===</span>Rumah sederhana. Dan matahari pun begitu bangga bisa menyinarinya, bahkan pada seluruh permukaan bumi yang penghuninya banyak yang tidak menyadari kehangatannya. Kehadirannya. Kelopak-kelopak bergerak dalam hitungan menit untuk membuka, memperlihatkan sari dan esensialnya sebagai bunga. Merekah dan mengundang kumbang-kumbang yang berjuang demi keluarganya. Bergerak dan mendengung, di antara tangkai-tangkai kecil yang begitu kokoh menyangga daun, duri, buah, bunga. Juga serangga-serangga kecil yang menumpang hidup darinya. Kompleksitas kehidupan, yang saling berhubungan. Begitu juga dengan makhluk termulia karena akal yang disandangnya. Penghuni rumah sederhana itu.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Seorang laki-laki berumur—dengan jenggot putih menjuntai sepanjang kurang lebih 5 cm, kacamata baca yang lumayan tebal, dan kopiah putih yang bertengger di kepalanya—sedang asyik membaca sebuah kitab di ruang tengah. Ruang tengah yang juga sederhana, dengan empat buah kursi kayu berhiaskan sulaman kulit bambu yang kokoh. Secangkir kopi tersaji dengan uap yang masih mengepul di atas meja, bersanding dengan kitab tebal beralaskan kain coklat bercorak batik. Selaras dengan warna alami kayunya. Satu kali lelaki tua yang biasa dipanggil kiai oleh tetangga-tetangganya itu membenarkan letak kacamatanya, sambil tangan lainnya menggaruk-garuk punggungnya yang tertutupi kaos berwarna putih. Sarung putih bercorak garis vertikal-horizontal di bagian bawahnya menjuntai hingga ke lantai yang sudah tertutupi ubin berwarna kuning. Kuning pupus karena bercampur debu yang melekat erat. Sangat sulit untuk dihilangkan. Lelaki tua itu mendesah. Dan setelah menyeruput kopinya, ia menoleh ke arah kanan.</p>
<p><span id="more-461"></span><span style="color: #ffffff;">===</span>“Bu!” ujarnya sedikit berteriak.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Ya, Pak!” sahut seseorang dari arah dapur. Seorang perempuan tua yang sebaya dengan lelaki tua itu—dengan balutan kerudung putih sambil memperlihatkan senyum khasnya—muncul menyibakkan kain yang menjuntai dari atas bingkai pintu yang tak berpintu. Penghubung antara ruang tengah dengan dapur. “Ada apa, Pak?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Lelaki tua itu tersenyum, “Tolong disiapkan baju dan celana untukku.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Perempuan tua itu mengangguk, lalu berjalan memasuki sebuah kamar yang terletak di sebelah ruang tengah. “Baju batik coklat dan celana hitam, kan, Pak?” tanyanya lagi memastikan sebelum ia masuk ke dalam kamar.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Iya, Bu,” jawab lelaki tua itu tetap tersenyum, dan langsung melanjutkan bacaan kitabnya. Tangan kirinya kembali membenarkan letak kacamatanya.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Sebuah bingkai besar berisikan foto keluarganya tergantung di salah satu dindingnya yang dicat biru muda—tepat di depan lelaki tua itu. Di sana terlihat dengan sangat cerianya, ia dan istrinya dengan keempat anaknya yang saling berpasangan, dan juga sepuluh orang cucunya. Sementara pada dinding lain yang saling berhadapan—yang dipunggungi oleh lelaki tua itu—, tergantung sebuah permadani besar bergambarkan Masjidil Haram dengan ka’bahnya yang begitu megah.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Tak lama perempuan tua yang tadi masuk ke dalam kamar telah muncul kembali di ruang tengah. “Mau berangkat jam berapa, Pak?” tanyanya sambil menutup pintu kamar.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Lelaki tua itu menoleh ke kanan, melihat jam dinding yang tergantung di dinding sana—pembatas antara ruang tengah dan dapur. “Insya Allah jam delapan, Bu. Acaranya baru dimulai jam sembilan.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Perempuan tua yang telah menjadi istri dari lelaki tua selama puluhan tahun itu kemudian duduk di salah satu kursi yang bersebelahan dengannya. “Pak, boleh aku bertanya?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Lelaki tua itu menatap wajah istrinya dengan lembut. Menunggu.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Maaf, mungkin pertanyaan ini terlalu telat. Tapi aku penasaran jika tidak menanyakannya.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Soal apa, Bu?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Soal baju itu. Baju batik yang sering kaukenakan untuk mengisi ceramah di berbagai tempat itu.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Ada apa dengan baju itu, Bu?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Tidak ada apa-apa dengan baju itu, Pak. Hanya saja aku heran kenapa selalu baju itu yang sering kaukenakan. Bukankah masih banyak baju lain yang lebih bagus dan lebih layak?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Apakah baju itu tidak layak kukenakan, Bu?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Bukan. Bukan itu maksudku, Pak. Hanya saja, baju itu kan kainnya tidak bagus dan coraknya pun biasa-biasa saja. Maaf, tapi apakah Bapak tidak malu memakai baju itu? Maksudku…, seperti sekarang ini. Bapak kan mau mengisi ceramah di kantor pemerintah. Banyak orang-orang penting di sana, Pak.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Lelaki tua itu tersenyum. “Insya Allah akan kuberitahukan alasannya kenapa aku sangat suka dengan baju itu, Bu. Tapi tidak sekarang. Insya Allah sepulang dari ceramah nanti akan aku beritahukan. Sabar, ya, Bu. Aku mau bersiap-siap dulu.” Dan lelaki tua itu segera beranjak ke dalam kamar, meninggalkan istrinya yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Tak lama lelaki tua itu telah berpamitan pada istrinya. Perempuan tua itu melepas suaminya dengan hati lapang, namun tetap saja pikirannya masih menyimpan sebuah pertanyaan tentang baju batik coklat itu. Ia pun mengingat-ingat kapan pertama kali suaminya membeli baju batik itu. Kira-kira sudah sepuluh tahun yang lalu. Dan tak pernah satu kali pun, suaminya memakai baju yang lain ketika berceramah.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Ia memang sangat bangga pada suaminya. Keimanan dan kejujurannya telah mengantarkannya menjadi orang yang sangat disegani oleh tetangga maupun masyarakat luas, hingga orang-orang menyebutnya kiai. Seorang da’i yang tetap tawadhu. Yang masih ingat pada kemiskinan tetangganya meski undangan ceramahnya telah sampai pada orang-orang penting. Dan perempuan tua itu benar-benar bangga akan suaminya. Yang berkahnya pun mengalir terus-menerus pada keluarganya. Turun-temurun.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Ia masih ingat benar akan suatu peristiwa beberapa tahun lalu, ketika suaminya diundang ceramah sedang mereka tidak mempunyai uang sepeser pun. “Tolong carikan pinjaman untuk ongkosku, Bu. Sepuluh ribu saja rasanya cukup. Insya Allah akan kuganti sepulang ceramah nanti,” begitu kata suaminya sebelum berangkat. Setelah mendapatkan pinjaman dari tetangganya, suaminya langsung berangkat. Dan ketika pulang, ia benar-benar gembira karena suaminya memberikan uang seratus ribu.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Kok tumben, nggak diamplop, Pak?” tanyanya basa-basi.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Kaupikir, memangnya uang itu dari mana?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Dari hasil berceramah, kan?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Bukan, Bu. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari sana kecuali kebahagiaan karena ilmuku tidak sia-sia kuberikan.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Lalu, uang ini dari mana?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Dari hasil menggadaikan cincin, Bu.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Cincin milikmu yang selalu disimpan di dalam lemari itu?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Ya.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Ya Allah. Kenapa Bapak tidak bermusyawarah dulu denganku? Aku, kan, istrimu, dan aku juga berhak atas cincin itu, Pak.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Maafkan aku, Bu. Aku terpaksa menggadaikannya karena ingin segera membayar utang tadi pagi. Tolong bersabarlah, dan kuakui ini memang kesalahanku. Insya Allah kalau ada rezeki, kita bisa menebusnya kembali. Bahkan, kalau kau mau bersabar, akan kaudapatkan ribuan cincin yang ribuan kali lebih bagus dari cincin itu.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Di mana?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Di surga kelak.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Ya. Itulah ingatan yang sangat membekas dalam hatinya akan keimanan suaminya yang begitu mendalam. Keimanan yang membekas pada ucapan-ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Hal itulah yang sangat membanggakan dan membahagiakannya karena bisa bersanding dengan lelaki mulia itu. Dan kini, jawaban apa lagi yang akan dikemukakan suaminya tentang baju batiknya itu.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Kau masih ingat ketika aku diundang berceramah di sebuah desa di daerah utara itu?” tanya lelaki tua itu ketika dirinya tengah bersantai sepulang ceramah, sementara istrinya bersanding di sebelahnya sambil sesekali memijiti tangannya. “Kira-kira limabelas tahun yang lalu.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Ya, aku masih ingat.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Kau tahu, setelah berceramah aku langsung dihampiri oleh panitia acara dan menyelipkan sebuah amplop pada tanganku.” Mata tua itu menerawang, “Pada awalnya aku menolak karena aku ikhlas, apalagi melihat para jamaah yang rata-rata orang kecil itu. Tetapi kemudian &#8230;,” Matanya mulai berembun, “panitia acara itu mengucapkan sesuatu yang sangat menggugah hatiku. Sesuatu yang telah mengubah diriku.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Apa itu?”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Katanya: Janganlah kautolak rezeki ini, nanti para jamaah akan tersinggung mengingat jumlahnya yang sangat sedikit. Ini uang halal, sebab para jamaah ini tidak ada kesempatan untuk korupsi. Mereka adalah penyabit rumput, penyadap nira, buruh harian, tukang batu, petani kecil, dan lain-lain. Uang ini adalah hasil kucuran keringat mereka yang telah berjuang keras. Tolong hargailah rezeki ini sebagai ikatan persaudaraan sesama muslim.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Perempuan tua itu menghentikan pijitannya. Matanya tak berkedip dan ikut berembun memandang suaminya, sementara pikirannya menerawang akan sesuatu yang amat indah. Sesuatu yang membuat hatinya terharu.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, selain menerima amplop itu dengan hati yang tak terkatakan. Ada perasaan lain ketika aku pulang dari sana. Sesuatu yang membuatku melihat keadaan desa itu dengan mata hati yang lain. Dan semalaman, aku benar-benar tidak bisa tidur. Akhirnya, kau pun mungkin masih ingat, keesokan harinya aku langsung pergi ke pasar dan membeli baju batik dari uang itu. Itulah kenapa aku selalu memakai baju batik itu, Bu.”<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>Perempuan tua itu langsung memeluk suaminya. Penuh kehangatan. Penuh kebahagiaan. Yang tak terkatakan.<br />
<span style="color: #ffffff;">===</span>“Baju itu sangat istimewa bagiku. Bila aku memakainya, tubuhku bagai berselimutkan kasih sayang mereka. Dan, aku ingin senyumku menjadi bagian dari senyum mereka, aku ingin air mataku senapas dengan air mata mereka.”[]</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Bandung 02.03.10</strong></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #003300;"><strong>NB:</strong> Mohon doa, cerpen ini diikutkan pada lomba “<a href="http://www.ceritainspirasi.net/kompetisi-artikel-blog/" target="_blank">Anti Korupsi BlogPost Competition</a>” yang diadakan oleh <a href="http://www.ceritainspirasi.net/" target="_blank">CeritaInspirasi.net</a>. Biarpun nantinya tidak menang, semoga cerita ini bisa menginspirasi semua orang.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/napas-air-mata/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Catatan: Finding Forrester</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/sebuah-catatan-finding-forrester/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/sebuah-catatan-finding-forrester/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 01:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Yuk, Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[film]]></category>

		<category><![CDATA[forrester]]></category>

		<category><![CDATA[potter]]></category>

		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<category><![CDATA[sean connery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Saat dirawat karena DBD kemarin, saya menyempatkan diri menonton film ‘Finding Forrester’, selain ‘Miss Potter’ yang diperankan oleh Renee Zellweger (kisah tentang Beatrix Potter, penulis buku anak ‘The Tale of Peter Rabbit’ yang melegenda karena best-seller).
Film ‘Finding Forrester’ (2000) bercerita tentang Jamal Wallace (Rob Brown) yang mendapatkan beasiswa ke sekolah yang lebih prestisius. Di sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat dirawat karena DBD kemarin, saya menyempatkan diri menonton film ‘Finding Forrester’, selain ‘Miss Potter’ yang diperankan oleh Renee Zellweger (kisah tentang Beatrix Potter, penulis buku anak ‘The Tale of Peter Rabbit’ yang melegenda karena <em>best-seller</em>).</p>
<p>Film ‘Finding Forrester’ (2000) bercerita tentang Jamal Wallace (Rob Brown) yang mendapatkan beasiswa ke sekolah yang lebih prestisius. Di sekolah barunya ini, ia mendapatkan pelajaran menulis yang cukup serius dari Prof. Robert Crawford (F. Murray Abraham), yaitu menelaah buku karangan William Forrester. Tanpa disengaja, Jamal berkenalan secara unik dengan seorang tetangga misterius yang ternyata adalah William Forrester (Sean Connery). Di sinilah jalinan persahabatan mulai terbentuk antara keduanya termasuk transfer ilmu kepenulisan.</p>
<p><span id="more-457"></span>Film yang ditulis oleh Mike Rich dan disutradarai oleh Gus Van Sant ini layak diapresiasi oleh siapapun yang ingin belajar menulis. Selain persahabatan yang dijalin begitu indah dari seorang penulis ternama yang pernah mendapatkan hadiah Pullitzer dengan seorang pemuda kulit hitam yang miskin, banyak dialog-dialog bernas tentang dunia kepenulisan yang patut diserap. Termasuk yang paling terkenal adalah adegan Forrester meminta Jamal untuk mengetik langsung, tanpa harus berpikir lebih dahulu (poin nomor 7).</p>
<p>Sebagai apresiasi untuk sobat baraya yang ‘haus’ ilmu kepenulisan, saya catatkan di bawah ini beberapa kalimat William Forrester yang bisa dijadikan bahan renungan. Saya sengaja tidak menerjemahkannya agar sobat baraya bisa menyerap lebih dalam makna kata-kata tersebut.</p>
<ol>
<li><span style="color: #003300;">An expression is worth a thousand words.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">The object of a question is to obtain information that matters only to us. There</span><span style="color: #003300;">’</span><span style="color: #003300;">s a question in your writing about what you wish to do with your life. That is a question your present school cannot answer for you.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Show a little respect for the author.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">You could learn a little something about holding back.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Socks are badly designed. The seams are on the inside. They hurt the toes. In some cultures, it’s good luck to wear something inside out. I don’t beleive it, but it’s like praying. What do you risk?</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Why is it the words we write for ourselves are always so much better than the words we write for others?</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Go ahead! Write! No thinking. That comes later. You write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is to write. Not to think.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Start typing that (mencontoh tulisan yang sudah ada). Sometimes the simple rhythm of typing gets us from page one to page two. When you begin to feel your own words, start typing them.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">There’s something you should know about Robert Crawford. He wrote a book a few years after mine. All the publishers rejected it, which was the right decision. Instead of writing another one he took a job teaching others how to write. A lot of writers know the rules about writing but they don’t know how to write.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Paragraph three starts with a conjunction, “and.” You should never start a sentence with a conjunction. It’s a firm rule. Jamal said: It was a firm rule. Sometimes using a conjunction at the start of a sentence makes it stand out. And that may be what the writer’s trying to do. It’s a distraction and could give your piece a run-on feeling. But the rule on using “and” or “but” at the start of a sentence is pretty shaky. Even though it’s still taught by too many professors. Some of the best writers have ignored that rule for years, including you.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">What the hell’s that got to do with writing? Writers write so that readers can read. Let someone else read it.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">Do you know what the absolute best moment is? When you’ve finished your first draft and you read it by yourself.</span></li>
<li><span style="color: #003300;">The rest of those who have gone before us cannot steady the unrest of those to follow.</span>[]</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/03/02/sebuah-catatan-finding-forrester/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tulisan Umiku</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/25/tulisan-umiku/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/25/tulisan-umiku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 13:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berhenti Sejenak]]></category>

		<category><![CDATA[anak]]></category>

		<category><![CDATA[ibu]]></category>

		<category><![CDATA[sakaratul]]></category>

		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<category><![CDATA[umi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[KETIKA ITU&#8230;.
Seorang ibu merintih kesakitan di pojok kamar yang sunyi&#8230;.
Anak : Sakitkah, Bu, sakitkah luka yang menganga dan sangat dalam ini?
Ibu : Iya, Nak. Sangat. (sambil meneteskan air mata)
Anak : Oh Ibu&#8230; andaikan saya merasakan apa yang Ibu rasa mungkin tidak akan sekuat Ibu.
Ibu : Jangan, Nak, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang orang pun enggan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KETIKA ITU&#8230;.</strong></p>
<p>Seorang ibu merintih kesakitan di pojok kamar yang sunyi&#8230;.</p>
<p>Anak : Sakitkah, Bu, sakitkah luka yang menganga dan sangat dalam ini?<br />
Ibu : Iya, Nak. Sangat. (sambil meneteskan air mata)<br />
Anak : Oh Ibu&#8230; andaikan saya merasakan apa yang Ibu rasa mungkin tidak akan sekuat Ibu.<br />
Ibu : Jangan, Nak, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang orang pun enggan untuk memikirkannya sekalipun.<br />
Anak : Kenapa Ibu bisa bertahan selama 5 tahun ini, menahan rasa sakit yang belum ditemukan obatnya?<br />
Ibu : Kau, kalian anak-anakku yang membuat Ibu merasa mampu untuk bertahan dan berharap sembuh. Demi melihat kalian bahagia serta kalau boleh memohon kepada Allah, bolehkah rasa pasrahku ini menghapus dosa- dosaku yang lalu.<br />
Anak : Apa yang Ibu harapkan dari kami?<br />
Ibu : Bimbinglah Ibu. Ingatkan terus untuk memohon ampun kepada Allah, temani saat sakaratul maut akan menjemput. Bisikkan Allahu Akbar berkali-kali, jangan Laailaaha illallah. Ibu takut bila saatnya nanti tidak sempurna mengucapkannya dan mengubah artinya. Doakan agar Ibu sabar dan mampu menghadapi ini semua. Dan bila nanti Allah memanggilku kembali, kalian harus tegar dan jangan menangis. Kalian sudah besar, tangisan tidak akan menolongku. Doa anak-anak yang soleh dan solehah yang akan menolongku&#8230;.[]</p>
<p><span style="color: #008000;">- 1,5 tahun yg lalu di kamar depan rumah kami</span></p>
<p><span id="more-452"></span><strong>MOHON DIJAUHKAN</strong></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #000000;">Seorang gadis belia usia 20 tahun datang ke RS ditemani seorang ibu dan 2 orang temannya, tampak meringis kesakitan akibat tabrakan. Pengendara motor yang menabrak taksi yang ditumpanginya tewas. Ehmm&#8230; jam segini? Sepagi buta gini dengan baju sexi super ketat dan tercium bau minuman keras? Dari mana kalau bukan&#8230;?</span></span></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #000000;">Ibu dengan sorot mata yang mendung, kecewa, setengah nggak percaya melihat putri semata wayangnya (yang selalu dia bangga-banggakan berbuat sesuatu yang jauh dari norma-norma yang dia ajarkan). Sedih melihat kondisi putrinya, sekaligus marah dan tidak bisa menerima kelakuan putrinya, seolah kecolongan.</span></span></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #000000;">Ngeri ngebayangin kalau itu terjadi sama anak-anakku setelah berusaha menjaga supaya mereka menjadi anak yang baik dan solehah. Ya Allah jangan sampai&#8230;. Umi nggak tahu dengan siapa mereka bergaul dan apa yang sedang mereka kerjakan dan rasakan.</span></span></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #000000;">Semoga Umi bisa menjadi ibu yang baik, yang selalu mereka butuhkan kapan pun dimana pun. Selalu menjadi tumpuan hidup mereka, yang bisa menenangkan hati yang sedah gundah, dan bisa jadi penyemangat hidup mereka dikala susah dan senang. Semoga diajauhkan dari hal-hal yang buruk, amin&#8230;</span>.<span style="color: #000000;">[]</span><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/25/tulisan-umiku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda Ampibi</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/23/sepeda-ampibi/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/23/sepeda-ampibi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 15:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cycling World]]></category>

		<category><![CDATA[Greeners Society]]></category>

		<category><![CDATA[b2w]]></category>

		<category><![CDATA[bandung]]></category>

		<category><![CDATA[banjir]]></category>

		<category><![CDATA[cieunteung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Musim banjir telah tiba. Tidak hanya Jakarta sebagai kota metropolitan yang selalu berlangganan banjir, Bandung yang seharusnya jadi tempat &#8216;istirahat&#8217; bagi orang-orang Jakarta pun juga ikut terendam banjir. Tidak main-main, bahkan banjir yang terjadi di Cieunteung pun hitungannya sudah mingguan dan mayoritas penduduknya kini tinggal di beberapa titik pengungsian. Beberapa kendaraan bermotor sudah tak mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Musim banjir telah tiba. Tidak hanya Jakarta sebagai kota metropolitan yang selalu berlangganan banjir, Bandung yang seharusnya jadi tempat &#8216;istirahat&#8217; bagi orang-orang Jakarta pun juga ikut terendam banjir. Tidak main-main, bahkan banjir yang terjadi di Cieunteung pun hitungannya sudah mingguan dan mayoritas penduduknya kini tinggal di beberapa titik pengungsian. Beberapa kendaraan bermotor sudah tak mampu lagi, beberapa bahkan mogok di tengah jalan hingga terpaksa diangkut rakit. Untuk kedalaman tertentu, sepeda masih bisa digowes, selebihnya &#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-446" title="banjir1" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/banjir1.jpg" alt="banjir1" width="625" height="225" /></p>
<p><span id="more-445"></span>Di Cina, seorang bapak mencoba berkreativitas atas sepedanya dengan penambahan beberapa galon air dan beberapa kipas pada ban belakang. Li Weiguo, penduduk Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, berhasil menciptakan sepeda ampibi, sepeda yang bisa digunakan di darat (dengan menaikkan galonnya) dan juga bisa digunakan di air (dengan menurunkan galon).  Kendaraan rakitannya itu diujicobakan oleh anaknya sendiri, Li Jin, pada 30 Mei 2009. Dan ternyata &#8230; memang berhasil!</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-447" title="banjir2" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/banjir2.jpg" alt="banjir2" width="625" height="225" /></p>
<p>Mungkin inilah kendaraan yang bisa disebut sebagai kendaraan yang bebas polusi dan bebas banjir! Mungkinkah kendaraan ini bisa dimasyarakatkan di daerah-daerah banjir di Indonesia?[]</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-448" title="banjir3" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/banjir3.jpg" alt="banjir3" width="625" height="225" /></p>
<p>NB: Foto teratas diambil oleh Om Tiyo B2W (13/02), sedangkan sisanya diambil oleh Zhou Chao/ChinaFotoPress [<a href="http://en.chinafotopress.com/index/search" target="_blank">http://en.chinafotopress.com/index/search</a>].</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/23/sepeda-ampibi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Lebih Cepat, Lebih Baik, dan Lebih Mudah [10 Tips Sederhana]</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/13/menulis-lebih-cepat-lebih-baik-dan-lebih-mudah-10-tips-sederhana/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/13/menulis-lebih-cepat-lebih-baik-dan-lebih-mudah-10-tips-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 10:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Yuk, Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[baik]]></category>

		<category><![CDATA[cepat]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[mudah]]></category>

		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Menulis, bagaimanapun akan menjadi profesi yang paling dibutuhkan, apalagi di era teknologi yang semakin maju ini. Sobat baraya bisa mensurvei sendiri pekerjaan apa (dari tingkat manapun) di dunia ini yang tidak lepas dari praktik menulis. Orang-orang yang bekerja di perkantoran, mayoritas akan berkomunikasi dengan fasilitas yang menyediakan perangkat teks seperti email, internet messenger (IM), dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis, bagaimanapun akan menjadi profesi yang paling dibutuhkan, apalagi di era teknologi yang semakin maju ini. Sobat baraya bisa mensurvei sendiri pekerjaan apa (dari tingkat manapun) di dunia ini yang tidak lepas dari praktik menulis. Orang-orang yang bekerja di perkantoran, mayoritas akan berkomunikasi dengan fasilitas yang menyediakan perangkat teks seperti <em>email</em>, <em>internet messenger</em> (IM), dan termasuk jejaring sosial yang lagi ngetren saat ini. Suka atau tidak, kemampuan kita untuk saling bertukar ide, berkolaborasi dengan sesama, hingga kemudian berhasil atau sukses, ditentukan oleh faktor kepenulisan secara efektif.</p>
<p>Mungkin bukan sesuatu hal yang baru, tetapi dengan sedikit metode yang berbeda, tulisan <a href="http://www.sotherebooks.com/" target="_blank">Andrew K. Stone</a> yang diambil dari situs <a href="http://www.pickthebrain.com/" target="_blank">Pick the Brain</a> kali ini bisa membuat sobat baraya belajar menulis lebih cepat, lebih baik, dan lebih mudah. Ada sepuluh tips sederhana bagaimana caranya sobat baraya memperbaiki gaya dan karakter penulisan, langsung dari pengarang yang dikenal lekat dengan sisi humanisnya (K. Stone adalah pengarang novel <em>All Flowers Die</em> dan <em>Disappearing Into View</em> yang cerdas menciptakan karakter unik dan ketajaman deskripsi, sehingga layak disejajarkan dengan John Irving, F. Scott Fitzgerald, dan Charles Dickens)</p>
<p><span id="more-442"></span>Kesepuluh tips sederhana itu adalah:</p>
<ol>
<li>Buang bagian yang membosankan. Meskipun sobat baraya menulis untuk diri sendiri, tetap perhatikan bahwa sebagai penulis, kita juga adalah pembacanya.</li>
<li>Hilangkan kata-kata yang tidak penting.</li>
<li>Menulislah dengan semangat dan dengan penuh perasaan. Anggap tulisan sobat baraya itu adalah harta yang paling berharga.</li>
<li>Menulislah seperti halnya sobat baraya melukis. “<em>Don’t tell me the moon is shining; show me the glint of light on broken glass</em>,” kata Anton Chekhov.</li>
<li>Ciptakan tulisan sesederhana mungkin. Belajarlah untuk menulis beberapa halaman singkat daripada menulis berpuluh-puluh halaman yang tidak berarti. William Strunk Jr. mengatakan, “<em>Vigorous writing is concise</em>.”</li>
<li>Lakukan dengan cinta. Sobat baraya bisa memulai menulis pada buku diari, blog, atau catatan kecil di situs jejaring sosial. Lupakan bahwa tulisan itu akan diterbitkan atau ingin dibeli. Yang terpenting adalah tanggapan dari orang lain (baik positif maupun negatif).</li>
<li>Belajarlah siap untuk selalu menerima kritikan. Dunia menulis selalu tidak lepas dari tanggapan orang-orang yang membaca karya kita. “<em>You have to know how to accept rejection and reject acceptance</em>,” kata Ray Bradbury.</li>
<li>Menulislah setiap saat. Jika sobat baraya telah siap menjadi seorang penulis, menulislah setiap ada kesempatan. Biasakanlah, atau kita tidak pernah jadi apa-apa. Ray Bradbury kembali menegaskan, “<em>Quantity produces quality. If you only write a few things, you’re doomed</em>.”</li>
<li>Tulislah apa yang diketahui atau &#8230; menulislah apa yang ingin diketahui. Menulislah sebanyak kita membaca. Menulis dan membaca adalah dua aktivitas yang berbeda. Jika kita bosan menulis maka membacalah, dan jika kita bosan membaca maka menulislah. Perulangan kedua aktivitas ini akan membuat otak kita terus bekerja dan bisa menghasilkan ide-ide yang cemerlang.</li>
<li>Jadilah pribadi yang unik dan sulit ditebak. Sulit memang, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba dan terus mencoba. Minimal, karya kita akan lebih menarik jika kita mampu membuat cerita yang unik dan sulit ditebak. “<em>Consistency is the last refuge of the unimaginative</em>,” kata Oscar WildeZest.</li>
</ol>
<p>Memang kesepuluh hal di atas adalah teori belaka dan banyak orang &#8230; sudah terjejali oleh teori-teori yang membuat kepala kita ‘mumet’. Intinya, kerjakan dan praktikkan. Menulislah langsung. Bergeraklah. Jika sobat baraya tidak berjalan dari sekarang, percayalah bahwa suatu saat nanti (bahkan sekarang) sobat baraya akan segera tertinggal &#8230; jauh di belakang.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/13/menulis-lebih-cepat-lebih-baik-dan-lebih-mudah-10-tips-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>[Resensi Buku] Bisnis Laundry Kiloan</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/10/resensi-buku-bisnis-laundry-kiloan/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/10/resensi-buku-bisnis-laundry-kiloan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 04:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Penerbitan]]></category>

		<category><![CDATA[bang aswi]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<category><![CDATA[laundry]]></category>

		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Peresensi : Sinta Nisfuanna
Judul : Bisnis Laundry Kiloan
Penulis : Bang Aswi
Penerbit : Penebar Plus
Tahun : 2009
Genre : Entrepreneur
Tebal : 114 halaman
ISBN : 978-979-3927-81-7
Outsource Publishing : Indscript Creative
Budaya dinamis dan serba cepat sepertinya telah mewabah pada diri warga Indonesia, terutama bagi para pekerja dan mahasiswa. Banyaknya aktivitas kerap membuat mereka malas untuk berurusan dengan hal-hal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-437" title="my_book" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/my_book.jpg" alt="my_book" width="116" height="165" />Peresensi : <a href="http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2010/02/bisnis-laundry-kiloan.html" target="_blank">Sinta Nisfuanna</a><br />
Judul : Bisnis Laundry Kiloan<br />
Penulis : Bang Aswi<br />
Penerbit : Penebar Plus<br />
Tahun : 2009<br />
Genre : Entrepreneur<br />
Tebal : 114 halaman<br />
ISBN : 978-979-3927-81-7<br />
Outsource Publishing : Indscript Creative</p>
<p>Budaya dinamis dan serba cepat sepertinya telah mewabah pada diri warga Indonesia, terutama bagi para pekerja dan mahasiswa. Banyaknya aktivitas kerap membuat mereka malas untuk berurusan dengan hal-hal yang dinilai sepele. Salah satunya ketika berurusan dengan cucian. Padahal, meningkatnya aktivitas pasti berbanding lurus dengan penggunaan pakaian. Tuntutan pekerjaan atau kuliah membuat mereka sulit untuk bisa menyisakan waktu sekadar mengurusi pakaian kotor yang memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan tidak jarang bisa membutuhkan waktu seharian, dari mulai mencuci, mengeringkan sampai menyetrika.</p>
<p><span id="more-436"></span></p>
<p>Melihat peluang ini beberapa orang mulai membuka usaha berkaitan dengan mencuci pakaian. Sebelum maraknya mesin cuci, banyak tukang cuci keliling yang mencari order dengan menawarkan jasanya dari rumah ke rumah. Sampai saat ini, dimana teknologi merajai zaman, tukang cuci manual masih ada. Hanya saja, tenaga manusia masih kalah telak dengan mesin dalam menerima volume orderan. Keterbatasan waktu dan tenaga para tukang cuci manual, membuat mereka membatasi diri dalam menerima permintaan konsumen. Walaupun di satu sisi, potensi kerusakan pada hasil pekerjaan mereka lebih kecil dan kebersihannya lebih terjamin, karena seperti yang diketahui bersama, kinerja manusia lebih luwes dibandingkan mesin.</p>
<p>Keterbatasan inilah yang membuat konsumen lebih suka memakai “jasa-mesin” atau biasa disebut <em>laundry</em>. Dengan waktu yang dijamin cepat sekaligus dapat mengerjakan dalam volume besar, <em>laundry</em> menjadi alternative utama untuk menangani urusan cuci mencuci. Dan <em>laundry</em>-pun tidak hanya menawarkan jasa cuci, tetapi juga mengerikan dan menyetrika, sehingga membuat pakaian yang tadinya kotor menjadi siap pakai.</p>
<p>Fenomena ini yang menjadi akar terbitnya buku berjudul “Bisnis Laundry Kiloan”. Buku yang diolah oleh <em>Indscript Creative</em> ini, memberikan gambaran cukup detail, mulai tahap persiapan sampai analisa biaya yang harus dikeluarkan untuk berdirinya bisnis <em>laundry</em>.</p>
<p>Sebelum memulai bisnis—apapun itu—akan lebih baik jika dilakukan survei lapangan atau <em>market test</em>. Hal ini perlu dilakukan untuk menilai apakah bisnis yang kita ambil memiliki prospek yang baik. Survei lapangan sendiri mencakup berbagai poin, sehingga nantinya pelaku bisnis memiliki kesiapan yang lebih matang. Permalahan yang juga perlu dipertimbangkan di awal adalah modal. Seringkali untuk permasalahan ini kita buru-buru mundur saat menyadari ketiadaan dana. Padahal masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mudah jika kita mau berpikir kreatif.</p>
<p>Begitu survei menunjukkan hasil positif dan modal telah tersedia, maka langkah yang selanjutnya harus diambil adalah promosi. Banyak cara promosi yang dapat diambil, dari yang memasang poster, lewat internet, dengan trik –trik yang inovatif hingga promosi dari mulut ke mulut. Dari beragamnya alternatif promosi, metode <em>mouth to mouth</em> masih menjadi paling efektif dan efisien. Kenapa? Karena metode ini lebih cepat menyebar tanpa perlu mengeluarkan dana. Namun untuk promosi tersebut harus lah didukung dengan pelayanan yang maksimal seperti, ketelitian order, dan proses dari sejak cucian diterima hingga sampai ke tangan konsumen. Ketika konsumen mendapatkan kepuasan tak diragukan lagi mereka, secara sadar ataupun tidak, akan mengajak temannya untuk menggunakan jasa kita.</p>
<p>Selain langkah-langkah di atas, masalah pemeliharaan dan analisa biaya juga menjadi hal <em>urgent</em> yang membutuhkan perhatian ekstra. Pemeliharaan dilakukan supaya usia guna dari peralatan lebih panjang, karena hal ini akan secara langsung sangat berpengaruh dengan analisa biaya. Tak dipungkiri, bahwa salah satu dari tujuan berbisnis adalah meraih keuntungan. Dengan adanya analisa pengeluaran dan pemasukan biaya saat operasional, dapat membantu pelaku bisnis untuk mendapatkan gambaran tentang untung rugi yang akan didapatkan setiap bulannya. Sehingga saat adanya tanda-tanda kerugian, pebisnis dapat melakukan tindakan antisipasi.</p>
<p>Didukung dengan survei lapangan yang dilakukan penulis, buku ini layak untuk menjadi panduan bagi peminat bisnis <em>laundry</em>. Bahkan adanya tambahan cerita-cerita pengalaman dari <em>entrepreneur</em> yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis <em>laundry</em>, sehingga dapat memberi gambaran pada pembaca tentang kondisi lapangan yang sebenarnya. Banyak suka dan duka yang mereka bagikan, tetapi satu hal yang dimiliki semua <em>entrepreneur</em> ini, yaitu keberanian meraih dan menggenggam peluang. Jadi, apa salahnya mulai melirik bisnis cuci-mencuci yang satu ini?[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/10/resensi-buku-bisnis-laundry-kiloan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang Kebersamaan yang Hilang</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/03/ruang-kebersamaan-yang-hilang/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/03/ruang-kebersamaan-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 08:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Another Words]]></category>

		<category><![CDATA[bersama]]></category>

		<category><![CDATA[istirahat]]></category>

		<category><![CDATA[makan]]></category>

		<category><![CDATA[nonton]]></category>

		<category><![CDATA[ruang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[Saya merasakan makan siang yang kurang nikmat belakangan ini. Bukan karena menunya yang tidak menggiurkan atau kondisi badan yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi semua jenis makanan lezat. Alhamdulillah saya masih diberi tubuh yang dapat menikmati semua rezeki Allah itu. Satu hal yang mungkin membuat saya kurang nikmat menyantap makan siang, bisa jadi adalah kebersamaan.
Di kantor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya merasakan makan siang yang kurang nikmat belakangan ini. Bukan karena menunya yang tidak menggiurkan atau kondisi badan yang tidak memungkinkan untuk mengonsumsi semua jenis makanan lezat. Alhamdulillah saya masih diberi tubuh yang dapat menikmati semua rezeki Allah itu. Satu hal yang mungkin membuat saya kurang nikmat menyantap makan siang, bisa jadi adalah kebersamaan.</p>
<p>Di kantor saya memang tidak ada kantin, sehingga saat jam makan siang otomatis semua karyawan akan beli makanan di luar. Jika tidak, tentu akan memakan perbekalan yang sudah disiapkan dari rumah atau membeli makanan di luar lalu makannya tetap di kantor. Semua berjalan biasa-biasa saja karena memang sudah dari sananya seperti itu. Yang biasa makan di luar tidak bermasalah, begitu pun dengan yang makan di kantor. Akan tetapi, saya seperti kehilangan makna saat jam-jam seperti itu, apalagi dengan maraknya penggunaan internet (khususnya <em>facebook</em>).</p>
<p><span id="more-425"></span>Dahulu, tepatnya empat tahun yang lalu, kita selalu makan bersama saat jam makan siang tiba. Yang tidak membawa bekal, membeli makanan dahulu di luar. Yang membawa perbekalan, menunggu sampai semua rekan tiba. Ada meja besar tempat kita berdiskusi atau tempat rekan-rekan ilustrator plus editor yang berkumpul di sana saat jam kerja. Meja besar itulah tempat kita makan siang bersama. Ada canda tawa di sana, plus saling berbagi menu-menu yang ingin dicoba. Saya bisa makan dengan menu sayur asem plus kerupuk, padahal saya hanya membeli atau bekal mi goreng dan tempe saja. Ada <em>sharing</em> yang tidak biasa terjadi di sana. Ada momen-momen yang bisa muncul di sana tapi tidak muncul saat jam kerja. Itulah kebersamaan yang saya maksudkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-427" title="makan" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/makan.jpg" alt="makan1" width="625" height="150" /></p>
<p>Kini, dengan kantin yang belum ada, semua itu berangsur-angsur hilang. Hanya (beberapa) kaum wanita saja yang masih bisa berkumpul ‘ngariung’ makan siang bersama di salah satu sudut kantor. Yang laki-laki, lebih banyak makan sendiri-sendiri di meja kerjanya, memandangi layar komputer sambil ber-<em>facebook</em> ria. Semuanya tampak mengejar waktu karena saat jam istirahat selesai, <em>facebook</em> kembali dinonaktifkan. Sudah seminggu ini, saya memaksakan diri makan di ruangan yang menurut saya nyaman untuk makan bersama. Saya sering menyindir betapa tidak nyamannya makan siang sambil memandangi layar komputer, apalagi makan sendiri. Satu dua orang pernah bergabung, tetapi selebihnya tetap makan di meja kerjanya. Padahal, ruangan itu tetap sama. Saya duduk di atas karpet di tengah ruangan, tepat di belakang meja-meja mereka.</p>
<p>Disadari atau tidak, kebersamaan bisa muncul di mana saja. Syaratnya tidak berat, hanya menciptakan suasana yang nyaman dan santai. Saya kira, jam makan siang itulah momennya. Saya sudah merasakan hal itu empat tahun yang lalu. Jika rekan-rekan saya mau menyempatkan diri makan bersama dan rela berkorban meninggalkan <em>facebook</em>, saya kira keakraban antarrekan kerja bisa terwujud lagi. Jika kantor saya mau menyediakan ruang untuk makan bersama, momen-momen itu saya kira bisa tercipta. Tidak ada lagi sekat-sekat antarbagian, atasan dengan bawahan, sesama rekan kerja, dan lain sebagainya. Jika ada tensi yang tinggi saat jam kerja, jam makan siang bisa merendahkan atau meniadakannya sama sekali. Itu baru di kantor.</p>
<p>Di rumah, ruang kebersamaan itu juga sudah hilang sama sekali. Jika ada meja makan, biasanya hanya simbolis saja. Meja makan ukuran kecil dengan dua atau tiga kursi, sedangkan anggota keluarga bisa jadi sudah berjumlah enam orang. Sekarang, dapur saja sudah dirasa cukup untuk ruang memasak, ruang mencuci piring, dan kulkas, tanpa harus ada meja makan. Padahal, kebersamaan bisa diciptakan tiap hari, tidak harus menunggu Ramadhan tiba. Ruangan tengah bisa diciptakan sebagai ruang kebersamaan dengan menggelar lesehan. Semua diletakkan di sana, lalu semua anggota bisa makan bersama. Semua bisa bercerita, berceloteh, tertawa, dan ‘curcol’ bersama.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-432" title="nonton" src="http://bangaswi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/nonton.jpg" alt="nonton" width="625" height="150" /></p>
<p>Bukan hanya di ruang makan, ruang kebersamaan pun bisa diciptakan di ruang tengah tempat TV berada. Semua anggota keluarga bisa menonton bersama dan orangtua pun bisa memantau tontonan yang aman bagi anak-anaknya. Tidak ada lagi kecurigaan orang tua terhadap anaknya sedang menonton yang bukan-bukan atau yang biasa-biasa, apalagi setelah adanya teknologi <em>DVD player</em>. Saya memang tidak setuju dengan konsep satu kamar satu TV karena konsep tersebut malah membuat jurang yang semakin lebar antaranggota keluarga. Semuanya seolah-olah telah menjadi individu yang asing. Terus terang, saya rindu dengan kebersamaan itu. Ruang kebersamaan yang kini (tampaknya telah) hilang.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/03/ruang-kebersamaan-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum Purnama itu Hilang</title>
		<link>http://bangaswi.com/blog/2010/02/02/sebelum-purnama-itu-hilang/</link>
		<comments>http://bangaswi.com/blog/2010/02/02/sebelum-purnama-itu-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 02:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaswi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berhenti Sejenak]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[purnama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaswi.com/blog/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[/1/
Ya Tuhan kami,
jadikan kami berdua orang
yang tunduk patuh kepada Engkau dan
jadikanlah di antara
anak cucu kami umat
yang tunduk patuh kepada Engkau dan
terimalah taubat kami.
/2/
Ya Tuhan kami,
berilah kami dari Sisi Engkau
anak-anak yang baik.
/3/
Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertaqwa.
/4/
Ya Tuhan kami,
ampunilah kami, ibu bapak kami,
orang-orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>/1/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
jadikan kami berdua orang<br />
yang tunduk patuh kepada Engkau dan<br />
jadikanlah di antara<br />
anak cucu kami umat<br />
yang tunduk patuh kepada Engkau dan<br />
terimalah taubat kami.</p>
<p><span id="more-422"></span>/2/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
berilah kami dari Sisi Engkau<br />
anak-anak yang baik.</p>
<p>/3/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
anugerahkanlah kepada kami<br />
istri-istri kami dan keturunan kami<br />
sebagai penyenang hati (kami), dan<br />
jadikanlah kami imam bagi<br />
orang-orang yang bertaqwa.</p>
<p>/4/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
ampunilah kami, ibu bapak kami,<br />
orang-orang yang masuk ke<br />
rumah kami dengan beriman, dan<br />
semua orang yang beriman<br />
laki-laki dan perempuan. Dan<br />
janganlah Engkau tambahkan bagi<br />
orang-orang yang zalim itu selain<br />
kebinasaan.</p>
<p>/5/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
janganlah Engkau biarkan kami hidup<br />
seorang diri.</p>
<p>/6/</p>
<p>Ya Tuhan kami,<br />
tunjukilah kami untuk mensyukuri<br />
nikmat yang telah Engkau berikan kepada<br />
kami dan kepada ibu bapak kami dan<br />
supaya kami dapat berbuat amal<br />
yang saleh yang Engkau ridhai;<br />
berilah kebaikan kepada kami dengan<br />
(memberi kebaikan) kepada anak cucu kami.</p>
<p>/7/</p>
<p>Sesungguhnya kami bertobat kepada Engkau<br />
dan sesungguhnya kami &#8230;<br />
termasuk orang-orang yang berserah diri.</p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #008000;">Babakan Sari 02/02/10</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangaswi.com/blog/2010/02/02/sebelum-purnama-itu-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
