Archive for the Category » Resensi [Cerpen] «

Tuesday, March 02nd, 2010 | Author: bangaswi

===Rumah sederhana. Dan matahari pun begitu bangga bisa menyinarinya, bahkan pada seluruh permukaan bumi yang penghuninya banyak yang tidak menyadari kehangatannya. Kehadirannya. Kelopak-kelopak bergerak dalam hitungan menit untuk membuka, memperlihatkan sari dan esensialnya sebagai bunga. Merekah dan mengundang kumbang-kumbang yang berjuang demi keluarganya. Bergerak dan mendengung, di antara tangkai-tangkai kecil yang begitu kokoh menyangga daun, duri, buah, bunga. Juga serangga-serangga kecil yang menumpang hidup darinya. Kompleksitas kehidupan, yang saling berhubungan. Begitu juga dengan makhluk termulia karena akal yang disandangnya. Penghuni rumah sederhana itu.
===Seorang laki-laki berumur—dengan jenggot putih menjuntai sepanjang kurang lebih 5 cm, kacamata baca yang lumayan tebal, dan kopiah putih yang bertengger di kepalanya—sedang asyik membaca sebuah kitab di ruang tengah. Ruang tengah yang juga sederhana, dengan empat buah kursi kayu berhiaskan sulaman kulit bambu yang kokoh. Secangkir kopi tersaji dengan uap yang masih mengepul di atas meja, bersanding dengan kitab tebal beralaskan kain coklat bercorak batik. Selaras dengan warna alami kayunya. Satu kali lelaki tua yang biasa dipanggil kiai oleh tetangga-tetangganya itu membenarkan letak kacamatanya, sambil tangan lainnya menggaruk-garuk punggungnya yang tertutupi kaos berwarna putih. Sarung putih bercorak garis vertikal-horizontal di bagian bawahnya menjuntai hingga ke lantai yang sudah tertutupi ubin berwarna kuning. Kuning pupus karena bercampur debu yang melekat erat. Sangat sulit untuk dihilangkan. Lelaki tua itu mendesah. Dan setelah menyeruput kopinya, ia menoleh ke arah kanan.

more…

Thursday, November 12th, 2009 | Author: bangaswi

cerita sebelumnya….

—-Siang terik. Di salah satu kios buku Pasar Senen aku melihat jejeran buku Wiro Sableng, sedangkan Dani asyik mencari buku Kumpulan Soal-Soal UMPTN. Salah seorang pedagang mendekatiku dan berbisik, “Nyari buku apa, Dek?”
—-“Wiro Sableng terbaru udah keluar?” tanyaku.
—-Ia mengangguk, lalu cekatan mengambil buku yang kumaksud dan langsung menyerahkannya padaku. “Ada lagi?”
—-Aku menggeleng. Tanganku pun mencari recehan dua ribu.
—-Pedagang itu merapat padaku dan berbisik lagi, “Mau Annie Arrow terbaru?”
—-Mataku mendelik.
—-“Dijamin lebih seru dibandingkan seri sebelumnya,” ujarnya tersenyum.

more…

Category: Resensi [Cerpen]  | Tags: , , , ,  | 3 Comments
Wednesday, November 11th, 2009 | Author: bangaswi

cerita sebelumnya….

—-KRIIINNGGG…!
—-Aku terlonjak bangun dari mimpiku dan segera menengok ke kiri-kanan. Teman-temanku sudah mulai bergerak meninggalkan bangku. Mereka tampak riang dan berceloteh bersama sejawatnya. Jam istirahat sekolah. Aku mulai menggeliat dan menguap lebar-lebar dan… ups! Rupanya Pak Rudi sempat memelototiku dari balik jendela kelas. Aku pun mencoba mengangguk dan tersenyum manis kepada guru sejarahku itu, “Oahhemm….”
—-“Fajaaar, Fajar…! Dari dulu nggak pernah berubah lu?” sebuah suara keras terdengar dari sebelah kiriku. Aku menoleh dan membentuk mulutku menjadi garis melengkung ke atas. “Nggak di mana, nggak kapan, kerjaan lu molooor aja,” sahutnya lagi.
—-Aku menggaruk kepala, “Abis mau diapain lagi, Dan!”
—-Dani menepuk pundakku, “Ya udah, kita ke kantin aja yuk!”
—-“Ayo!” Aku bangkit dan berjalan mengikuti Dani keluar kelas. Baru saja aku akan membelok, tiba-tiba….
—-PRAANNGGG…!!!

more…

Category: Resensi [Cerpen]  | Tags: , , , ,  | 7 Comments
Monday, November 09th, 2009 | Author: bangaswi

—-CRIK - CRIK - CRIK!
—-Aku menyodorkan recehan uang seratus kepada sang kenek, lalu menyandarkan kepalaku ke dinding kaca kopaja. Huffh! Tampaknya hari ini terlalu panas untuk dilewati dan menit-menit pun juga lamban bergerak. Entahlah, hatiku juga terasa lelah merasakan beban monoton setiap harinya. Akhirnya mataku sudah sangat berat untuk diajak kompromi dan secara perlahan kelopak mataku pun mulai turun.
—-“Asyiiik, kosong woi!”
—-“Akhirnya dapet juga boil yang rada kosong nih.”
—-“Gitu dong, Bang! Kite-kite kan juga berhak menikmati jasa angkutan umum ini, ya nggak, Coy?”
—-“YOI….”
—-“Hahahahaha….”
—-“Eh, Jack! Anak mana tuh yang lagi ngorok!”
—-“Woi, bangun! Jangan pura-pura tidur lu!”

more…

Category: Resensi [Cerpen]  | Tags: , , , ,  | 7 Comments
Sunday, September 13th, 2009 | Author: bangaswi

—-Panas. Suasana Bandung yang saban hari semakin terik saja. Melepuhkan aspal-aspal. Melelehkan plastik-plastik. Menguapkan keringat-keringat. Mengeringkan genangan-genangan. Mencipta bias fatamorgana pada permukaan jalan. Mencipta angan-angan. Bersama angin yang raib begitu saja. Menghilang. Lenyap. Terembuskan begitu saja. Menjadi ghaib. Kembali lagi menjadi awal. Berputar dan terus berputar. Pada titik yang pada akhirnya kembali menjelma panas.
—-Seorang perempuan tua duduk termangu. Pada lapaknya yang tidak jauh dari lapak-lapak pedagang kaki lima yang banyak berkumpul di pinggir jalan utama. Memenuhi trotoar yang tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki. Lapaknya selalu sepi; yang tampak berbeda jauh dari lapak-lapak lainnya dimana calon pembeli berjubel. Mungkin karena barang dagangannya yang second. Mungkin karena dia hanya perempuan tua yang tidak aktif menawarkan dagangannya. Mungkin karena rezekinya belum datang. Mungkin….

more…