Archive for the Category » Greeners Society «

Tuesday, February 23rd, 2010 | Author: bangaswi

Musim banjir telah tiba. Tidak hanya Jakarta sebagai kota metropolitan yang selalu berlangganan banjir, Bandung yang seharusnya jadi tempat ‘istirahat’ bagi orang-orang Jakarta pun juga ikut terendam banjir. Tidak main-main, bahkan banjir yang terjadi di Cieunteung pun hitungannya sudah mingguan dan mayoritas penduduknya kini tinggal di beberapa titik pengungsian. Beberapa kendaraan bermotor sudah tak mampu lagi, beberapa bahkan mogok di tengah jalan hingga terpaksa diangkut rakit. Untuk kedalaman tertentu, sepeda masih bisa digowes, selebihnya ….

banjir1

more…

Monday, January 25th, 2010 | Author: bangaswi

Pada tahun 2055, seorang pengarsip hidup menyendiri di ruangannya. Keadaan planet Bumi saat itu sangat mengerikan akibat bencana alam, peperangan, hingga sebagian besar permukaannya hanya terisi oleh air. Pete Postlethwaite, aktor yang memerankan orang tanpa nama tersebut, kemudian mengambil beberapa arsip beberapa tahun ke belakang untuk merunut apa yang terjadi sebenarnya sehingga bumi bisa seperti itu. Dan kita bisa melihat dalam film itu, betapa hal-hal yang remeh seperti membeli permen–lalu membuang pembungkusnya begitu saja–bisa berakibat fatal bagi planet Bumi ini di masa yang akan datang.

Itulah gambaran film “The Age of Stupid”, sebuah film drama-dokumenter-animasi Inggris yang dibuat oleh Franny Armstrong pada 2009. Inti dari film itu pada akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita masing-masing, “Mengapa kita tidak menghentikan perubahan iklim yang ekstrem saat kita memiliki kesempatan, yaitu saat ini?” The New York Times bahkan berani mengatakan bahwa film ini jauh lebih menggigit dari “An Inconvenient Truth”–sebuah film dokumenter 2006 tentang lingkungan hidup yang diwacanakan oleh Al Gore, wakil presiden Amerika.

more…

Sunday, January 17th, 2010 | Author: bangaswi

Mentari menyala di sini
Di sini, di dalam hatiku
Gemuruhnya sampai di sini
Di sini, di urat darahku

Saya tersentak! Ya, lagu itu mengingatkan saya kembali ke masa 15 tahun yang lalu saat menjalani program pengenalan kampus yang lebih dikenal dengan istilah OSPEK. Kini, lagu itu diperdengarkan pada opening film dokumentasi perjalanan pesepeda berkeliling dunia yang dilakukan oleh Mas Paimo (50 tahun). Lagu Mentari pertama kali diperkenalkan oleh Iwan Abdurrahman atau Abah Iwan yang terkenal sebagai pecinta alam dan (juga) pesepeda dimana lagu yang paling dikenal dari sekian lagu-lagu ciptaannya adalah Melati dari Jayagiri.

more…

Saturday, December 19th, 2009 | Author: bangaswi

l-03_gempa

Salah satu topik yang dibahas oleh Greeners Magazine Volume 4 Edisi 3 November 2009 adalah tentang bencana alam, salah satunya adalah gempa yang terjadi di Sumatera Barat. Sebagai kontibutor, saya pun menyelipkan sedikit informasi apa yang bisa sobat baraya lakukan saat terjadi gempa. Tips ini sebenarnya disarankan oleh Doug Copp, kepala penyelamat dan manajer bencana dari American Rescue Team International (ARTI). Copp telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun. Copp bahkan telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985. Dari pengalaman itulah, Copp menemukan metode sederhana yang dinamakan segitiga kehidupan.

more…

Monday, November 16th, 2009 | Author: bangaswi

l-02_greenschoolHari libur tidak menyurutkan langkah Made Mangku Pastika untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan. Minggu, 4 Oktober 2009 misalnya, Gubernur Bali ini melakukan kunjungan kerja ke Green School yang berlokasi di Banjar Saren, Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. Sekolah ini memang diresmikan olehnya pada Mei 2009 lalu.

John Hardy, pengusaha perak asal Kanada yang juga pendiri Yayasan Kulkul, pengelola sekolah ini, menyambut ramah kedatangan Gubernur beserta rombongan. Kepada Gubernur, John Hardy menjelaskan bahwa ide dasar pembangunan sekolah di atas areal seluas 8 hektar itu adalah untuk menerapkan ajaran Trihita Karana. Oleh karena itu, tidak ada bahan buatan pabrik atau zat kimia yang dipergunakan di sekolah ini. Merokok pun tidak diperkenankan.

Bahan-bahan bangunan dipilih hampir seluruhnya dari bambu. Meja, kursi, rak, dan lemari tempat menyimpan buku yang digunakan sehari-hari oleh anak didik semuanya terbuat dari bambu. Sedangkan atap bangunan dibuat dari ilalang. Melihat hal tersebut, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa memasuki sekolah ini seperti memasuki sebuah kompleks bangunan megah yang semuanya terbuat dari bambu dan ilalang dengan bentuk yang sangat indah dan khas.

more…