Archive for » November, 2009 «

Saturday, November 28th, 2009 | Author: bangaswi

Pada Jum’at sore di bulan November 2005, sebuah pemandangan istimewa (bahkan bisa dikatakan luar biasa) terjadi di Jl. Cikapayang, tepatnya di bawah jembatan layang Pasupati. Ratusan orang beragam usia dan juga sepeda dari berbagai jenis dan merek berkumpul bersama dalam rangka mengkampanyekan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan. Adalah Akhmad Riqqi, staf pengajar di Jurusan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, yang mencetuskan ide itu bersama beberapa kawan dan juga mendirikan Bike Commuter Bandung (BCB), sebuah kelompok sepeda yang anggotanya juga merupakan anggota dari beberapa kelompok sepeda yang sudah ada.

“Sejak BBM naik, memang banyak yang pindah ke motor. Tapi motor juga kan masih bergantung pada BBM. Kita ingin memperlihatkan sepeda bisa menjadi alternatif transportasi supaya Kota Bandung bersih,” ujar Akhmad Riqqi mengenai alasan mengapa kegiatan itu digaungkan. Apalagi, lanjutnya, ada dua faktor penting yang sangat berkaitan, yaitu akibat kenaikan harga BBM dan juga kesadaran untuk hidup sehat dengan menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan (karena tanpa BBM). Sepeda sebagai moda transportasi pun bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk bersekolah, kuliah, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang berkaitan. Makanya kegiatan ini memakai slogan “Bike to Work, Bike to Campus, Shared the Road”.

more…

Wednesday, November 25th, 2009 | Author: bangaswi

New York adalah kota terpadat dari segi lalu lintas. Boleh dibilang kemacetan adalah kejadian sehari-hari yang tidak perlu diceritakan lagi. Sebagai salah satu kota dari negara maju, mereka pun ternyata tidak menganaktirikan sepeda. Bahkan bike lane atau jalur sepeda pun sudah disediakan. Namun hal ini tidak bisa dijadikan patokan kalau pesepeda di sana sudah dimanjakan. Hampir semua warganya mengatakan kalau bersepeda di Kota New York adalah tindakan bunuh diri. Perlu keberanian yang luar biasa untuk menembus kepadatan lalu lintas di kota besar itu dengan sepeda.

Loh, ada apa sebenarnya? Pemerintah New York pun akhirnya mengadakan studi banding tentang jalur sepeda ke beberapa kota dunia seperti Koppenhagen, Paris, Amsterdam, Bogota, dan semacamnya. Akhirnya mereka pun mengetahui kalau jalur sepeda di New York salah dalam tata letaknya. Mereka meletakkan jalur sepeda di antara tempat parkir dan jalan raya, sehingga jalur sepeda itu kebanyakan habis untuk tempat parkir dan para pesepeda pun tetap berjuang keras di tengah-tengah jalan raya yang padat. Sementara di kota-kota lain yang dijadikan studi banding, jalur sepeda ditempatkan di antara pedestrian dan tempat parkir. Bahkan antara jalur sepeda dan tempat parkir pun di sediakan pembatas yang aman (sementara di Bogota, pembatas yang dipakai juga ditanami beberapa tanaman yang indah dan menarik).

more…

Monday, November 23rd, 2009 | Author: bangaswi

Jika sobat baraya tinggal di Jakarta, cobalah sekali-kali memantau Jl. Sudirman di pagi atau sore hari. Lihatlah baik-baik keadaan lalu-lintas di jalan itu. Abaikan kendaraan bermotor yang beroda dua, empat, atau lebih yang lewat. Abaikan pula kendaraan non motor di mana empunya kendaraan juga masih tetap berjalan kaki. Tapi perhatikan kendaraan non motor yang melaju (boleh dikatakan) cepat di antara kendaraan bermotor, beroda dua, dan pengendaranya berpakaian layaknya sedang berolahraga. Memakai helm, sepatu, sarung tangan, kacamata, pakaian ringkes, dan ransel.

Ya, kendaraan itu adalah sepeda. Dan pengendaranya sebenarnya bukan sedang berolahraga (kendati mereka semua sepakat kalau apa yang mereka lakukan adalah berolahraga), melainkan sedang berangkat kerja atau istilah kerennya adalah Bike to Work (B2W). Apa?! Mereka berangkat kerja dengan bersepeda? Apakah mereka orang tidak punya? Tidak juga, karena sebagian dari mereka adalah para pengusaha muda. Jadi, mereka pun sebenarnya punya motor dan bahkan mobil di rumahnya. Tapi kenapa bersepeda?

more…

Sunday, November 22nd, 2009 | Author: bangaswi

Menurut Majalah SWA No.XXV/12-25 November 2009, Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia atau yang biasa dikenal dengan Bike To Work (B2W) Indonesia dipercaya menduduki peringkat pertama sebagai Indonesia Most Recommended Consumer Community 2009. Jelas, hal ini cukup membanggakan mengingat perjuangan komunitas yang peduli pada masalah lingkungan dengan mengurangi polusi udara dan suara, telah berlangsung selama 5 tahun, yaitu sejak 4 Agustus 2004 di Plaza Danamon, Jakarta. Di Bandung sendiri, B2W chapter Bandung baru berdiri pada November 2005 setelah gebrakan pertamanya digagas oleh Akhmad Riqqi, pendiri Bike Commuter Bandung.

Komunitas B2W telah mengalahkan beberapa komunitas yang sebenarnya jauh lebih dikenal dan popular. Sebut saja Harley Davidson Club Indonesia (2), Forum Pembaca Kompas (7), Kaskus (9), Slankers (12), Jakmania (26), Multiply Indonesia (29), Harry Potter Indonesia (30), dan lain-lain yang mayoritas adalah komunitas pecinta kendaraan bermotor beroda dua dan beroda empat. Dari 30 peringkat teratas, ada 14 komunitas kendaraan bermotor yang terdiri dari 5 komunitas kendaraan bermotor beroda dua dan 9 komunitas kendaraan bermotor beroda empat. Apabila dirunut dari waktu berdirinya, tentu membanggakan mengingat B2W terbilang masih berusia jagung jika dibandingkan dengan semua komunitas yang ada.

more…

Friday, November 20th, 2009 | Author: bangaswi

Menulis adalah profesi, dan hal itu sudah pernah saya bahas di sini. Apapun aktivitas kita, adalah profesi. Apabila aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah mengajar, berarti profesi sobat baraya adalah menjadi seorang guru atau dosen. Begitu pula jika aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah menulis. Dan profesi, pada titik tertentu akan mengalami kemandulan. Suatu saat, manusia akan mengalami kehidupan di bawah. Bagi seorang penulis, masa ini bisa jadi adalah kejumudan yang membuatnya tak dapat menemukan ide. Namun seperti sebuah roda, kehidupan akan terus bergulir. Dunia kepenulisan akan terus bergulir. Pada titik inilah seorang penulis harus beristirahat. Bertamasya. Mungkin menulis diari bisa menjadi pilihan tamasya yang menyegarkan. “Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas,” kata Anais Nin.

Akan tetapi, bagaimana dengan orang yang aktivitas sehari-harinya adalah menulis diari? Carilah bentuk tamasya lainnya. Intinya adalah menyegarkan. Setelah bertamasya, otak dan fisik sobat baraya kembali menjadi segar dan siap untuk beraktivitas kembali.

more…

Category: Yuk, Menulis  | Tags: , , , ,  | 14 Comments