Archive for » August, 2009 «

Monday, August 31st, 2009 | Author: bangaswi

Saat sobat baraya pergi ke toko buku dan membeli sebuah atau beberapa buku, pernahkah sobat baraya bertanya mengapa buku ini harganya jauh lebih murah daripada buku itu kendati jauh lebih tebal? Mengapa buku ini mahal sekali padahal sangat tipis? Mengapa buku-buku terbitan A selalu berada di bawah angka 50 ribu rupiah sedangkan buku-buku terbitan B selalu berada di atas angka 50 ribu rupiah? Mengapa buku-buku terjemahan lebih mahal daripada buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal yang sama-sama ditulis dalam bahasa Indonesia?

Well, ada banyak faktor yang membuat buku memiliki harga yang berbeda-beda. Bahkan, faktor-faktor yang kadang-kadang tidak pernah dipikirkan oleh para pekerja buku–dan sangat dihindari–pun bisa jadi membuat harga sebuah buku menjadi sangat mahal dari perkiraan awal. Misalnya saja keterlambatan proses sebelum naik cetak, kesalahan pada cetakan sehingga harus diulang, atau kesalahan pada sampul buku sehingga harus dibuat jaket.

more…

Category: Penerbitan  | Tags: , , , ,  | 5 Comments
Sunday, August 30th, 2009 | Author: bangaswi

cov01—-Bunga itu layu. Bunga mawar yang tumbuh di sudut jalan terlihat memucat. Kelopak-kelopaknya sudah ada yang berguguran, sebagian yang lain bertahan lunglai. Warna hijau pada daun juga semakin gelap dan kering. Ketika kusentuh batangnya, pun terasa rapuh. Pohon ini sekarat! Aku menurunkan tubuhku dan berjongkok di depannya dengan mata tak berkedip, ikut sedih.
—-“Ono opo to, Nduk?” sebuah suara halus menyentuhku. Suara khas Bapak.
—-Tanpa menoleh aku menunjuk mawar itu.
—-“Waduh …, maware wis arep mati, Nduk!” Bapak ikut berjongkok.
—-Aku terus memandangi mawar itu.
—-Tangan Bapak merengkuh pundakku. “Ragil suka?”
—-Aku menoleh ke arah Bapak. Kemudian mengangguk.
—-Bapak tersenyum. “Yo wis, mawarnya kita bawa ke rumah ya! Siapa tahu bisa segar lagi dan menghiasi pekarangan rumah kita.”
—- Mataku berbinar kegirangan.
—- Kemudian dengan cekatan, tangan hitam Bapak mulai mengorek tanah di sekitar pohon mawar itu hingga akhirnya mawar yang hampir mati ini sudah berada di tangannya. “Nah, sekarang kita pulang yuk! Biar mawarnya ora mati.”
—- Aku meloncat-loncat dan bertepuk tangan. Bapak pun menggandeng tanganku yang kecil. Beriringan berjalan pulang.
—- Sepanjang perjalanan, hatiku bersenandung riang. Tampaknya mawar itu tersenyum padaku. Kadang-kadang aku mencoba bergelayutan di tangan Bapak yang kekar. Bapak pun meladeninya. Sungguh, hatiku saat ini seindah bunga. Dan aku berharap mawar itu juga seindah hatiku nantinya. Tiba di pekarangan rumah kami, Bapak berhenti sejenak. Matanya berkeliling memperhatikan pekarangan itu. Kemudian Bapak menyerahkan pohon mawar itu kepadaku. “Tunggu sebentar ya, Nduk.”
—- Aku mengangguk. Sementara itu Bapak langsung masuk ke dalam rumah. Aku membelai mawar itu dengan rasa sayang dan kasihan. Tidak beberapa lama kemudian Bapak sudah kembali sambil membawa sebilah golok. “Maware badhe ditandur neng ndi, Nduk?” tanya Bapak.
—- Aku menunjuk ke suatu tempat dekat pintu.
—- Bapak pun tersenyum mengangguk. Lalu kami menuju ke tempat itu dan berjongkok. Bapak mulai menggerakkan goloknya hingga membuat lubang di tanah. “Ragil …, tolong jiku no banyu yo?”
—- Aku mengangguk dan langsung berlari ke dalam rumah. Kuambil tempat air yang terbuat dari kayu di sudut dapur. Secara hati-hati aku mengambil air dari belanga dengan menggunakan batok kelapa. Setelah terisi setengahnya aku segera keluar. Saat kembali, Bapak sudah selesai menanam mawar itu dan memandang tersenyum kepadaku. Setelah tempat air yang kubawa berpindah tangan, Bapak mulai menyibakkan air dengan tangannya ke arah pohon mawar. Hati-hati sekali. Tak lama kemudian tanah di sekitar tempat pohon mawar itu ditanam telah basah, pun seluruh permukaan kulit mawar. Hatiku juga basah memandang mawar itu. Basah karena bahagia. Semoga mawar itu juga.
—- “Nah, Nduk! Sejak saat ini Ragil yang harus merawatnya ya. Setiap pagi dan sore, mawar ini harus dimandikan seperti tadi. Ojo lali loh, Nduk!”
—- Aku pun mengangguk senang.

more…

Friday, August 28th, 2009 | Author: bangaswi

“Untuk jadi pengarang, Anda harus mulai menulis.” Begitulah kira-kira perkataan J.K. Applegate, sang penulis buku seri Animorpheus. Tidak ada jalan lain bagi seorang penulis selain menulis. Ya, menulis adalah harga mati bagi seorang penulis sehingga sangatlah aneh kalau ada penulis yang tidak menjadikan menulis sebagai kegiatan kesehariannya.

Menulis setiap hari? Ya, apakah ada hal yang aneh dengan pernyataan tersebut? Saya kira tidak. Jika sobat baraya bekerja sebagai seorang akuntan, tentu akan bekerja setiap hari tentang dunia akuntansi yang otomatis akan bergulat dengan masalah angka-angka. Begitu pula jika sobat baraya adalah seorang ahli komputer, tentu akan berkutat dengan istilah-istilah hi-tech dunia komputer dan teknologinya, setiap hari. Dan menulis setiap hari bagi seorang penulis, adalah bentuk kewajaran dari dunianya yang memang dituntut profesional.

more…

Category: Yuk, Menulis  | Tags: , , , ,  | 12 Comments
Thursday, August 27th, 2009 | Author: bangaswi

Beberapa orang seringkali menganggap bahwa penerbitan adalah percetakan dan begitu pula sebaliknya. Padahal, keduanya tidak hanya berbeda secara pelafalan tetapi juga berbeda secara pasti; bahwa keduanya adalah dua perusahaan yang berdiri sendiri kendati keduanya tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan.

Menurut KBBI, penerbit adalah perusahaan dan sebagainya yang menerbitkan buku, majalah, dan sejenisnya; sedangkan penerbitan adalah proses, cara, atau perbuatan menerbitkan. Percetakan sendiri bermakna tempat atau perusahaan yang berhubungan dengan masalah cetak-mencetak buku, majalah, dan sejenisnya.

more…

Monday, August 24th, 2009 | Author: bangaswi

Ramadhan adalah bulan komunikasi. Tentu saja, karena di bulan suci inilah kita diminta untuk meningkatkan komunikasi dengan Tuhan. Secara horizontal, kita pun diminta untuk ‘merasakan’ lapar dan haus sehingga komunikasi kita dengan orang-orang yang biasa berlapar dan haus bisa kembali efektif. Dan puncaknya, pada saat lebaran nanti, komunikasi itu benar-benar harus kembali suci: ke semua unsur yang pernah berkomunikasi dengan kita. Yang jauh maupun yang dekat. Yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari komunikasi. Bahkan, Tom Hanks yang memerankan seorang kurir dalam film Cast Away pun tetap (harus) menjaga komunikasi saat ia terdampar di sebuah pulau terpencil seorang diri, kendati tidak ada seorang manusia pun di sana. Dan ketika sebagian besar manusia beristirahat di malam hari, Tuhan pun menyediakan waktu bagi hamba-hamba-Nya yang ingin berkomunikasi. Dan untuk itu, ‘hadiah’ yang disediakan-Nya teramat besar.

more…