Wednesday, June 03rd, 2009 | Author: bangaswi

Pada sebuah taman bermain di tengah kota, seorang ibu duduk di sebelah seorang pria. Keduanya boleh dibilang tidak saling mengenal, tetapi tampak kalau keduanya sedang menunggui anak mereka yang asyik bermain.

“Itu anak saya,” tunjuk ibu itu pada seorang anak lelaki yang memakai baju merah yang sedang main perosotan.

“Anak yang tampan,” ujar pria itu menghormati sang ibu. “Itu anak saya yang sedang bersepeda dengan baju putihnya,” tunjuknya berganti pada seorang anak perempuan yang sedang bersepeda.

Sang ibu pun mengangguk tersenyum.

Beberapa saat kemudian, pria itu melihat jam tangannya, lalu memanggil anaknya. “Putri, sudah saatnya kita pulang. Ayo….!”

Sang anak yang dipanggil Putri pun menghentikan sepedanya, “Lima menit lagi, Ayah. Bolehkan? Hanya lima menit lagi.”

Pria itu mengangguk sambil tersenyum, mempersilakan anaknya untuk kembali bermain.

Setelah lima menit berlalu, pria itu kembali memanggil anaknya. “Sudah bisakah kita pergi, Putri?”

Putri pun langsung menjawab, “Lima menit lagi, Ayah. Hanya lima menit lagi.”

“Oke,” sahut pria itu tersenyum.

“Luar biasa,” ujar sang ibu yang dari tadi memperhatikan. “Rupanya Anda seorang ayah yang sabar,” lanjutnya.

Pria itu tersenyum dan berkata, “Kakaknya meninggal karena tertabrak mobil yang dikendarai oleh orangĀ  mabuk tahun lalu saat ia bersepeda di dekat sini. Saya tidak pernah punya waktu untuk bermain dengannya saat itu, dan saya amat menyesalinya. Karena itulah saya tidak mau membuat kesalahan yang sama terhadap Putri.”

Pria itu menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin Putri mengira dia mendapatkan jatah lima menit untuk mengendarai sepedanya. Tetapi sebetulnya, saya justru MENDAPATKAN lima menit untuk melihatnya bermain.”

Ya, hidup adalah sebuah pilihan. Jadi, sudahkah sobat baraya membuat pilihan yang benar?[]

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

20 Responses

  1. bang ni blog yang baru…..

    kasih komen dunk

  2. cerita yg menyentuh.. :-)

  3. bagus ceritanya ^_^

  4. >> fajar : oke, otw….
    >> anis : makasih, nis.
    >> petra : iya, ceritanya bagus, bukan sayanya yang bagus … ^_^

  5. Salam

    Aku juga jadi ikut bingung nih
    Yang bagus ceritanya atau yang nulis ya?

    Kayaknya dua-duanya bagus tuh

    Salam

  6. jleb… nusuk banget…

    keren!

  7. kayak judul lagu dangdut bang :D keren!!

  8. makaih bang atas semangat yang telah diberikan…..
    dengan ini aya adar baha tidak ada pekerjaan yang sia-sia…..

  9. Thanks.

  10. makasih bang buat komentarnya…..

  11. yupz aq setuju jg……
    ceritanya bagus bang…………
    tuh menyindir para ortu yang banyak menghabiskan waktu dikantor dan menganggap uang bisa membahagiakan anak.
    padahal sebenarnya kasih sayang orang tua itu lebih berharga dari apapun juga……

  12. >> eshape : Hehehehe, salam kembali.
    >> senny : Asal jangan mati, Sen.
    >> antown : Dangdut emang judulnya mantep2 ^_^
    >> fajar : Sama2, Jar….
    >> savowen : Semoga bisa mengingatkan….

  13. bener.. kadang kita baru menyadari kita mencintai ato membutuhkan seseorang setelah orang tidak ada.. :(

  14. salam kenal kang. tulisannya mante

  15. nice story bang!
    bener2 menyentuh!

  16. >> yorick : Begitulah, semoga ini menjadi pelajaran agar kita tidak seperti itu….
    >> adi : Salam kenal juga. Makasih.
    >> kanty : Semoga bermanfaat, Kanty.

  17. wah ceritanya penuh makna bang, eh kang (bingung nyebutnya).
    cerita yang bagus pasti di tulis sama orang yang keren pula heheh..

  18. >> rizal : Silakan panggil Bang saja. Thanks….

  19. bang aswi salam kenal, bagaimana kabar putri sekarang ?
    mengena sekali dan bagus :)
    bergabung tukeran link ya bang, say masih belajar menulis
    mohon bimbinganya :)
    terimakasih :)

  20. >> whisper girl : Salam kenal juga. Putri baik2 saja, kok ^_^
    Yuk, belajar menulis bersama-sama….

Leave a Reply