Pada sebuah taman bermain di tengah kota, seorang ibu duduk di sebelah seorang pria. Keduanya boleh dibilang tidak saling mengenal, tetapi tampak kalau keduanya sedang menunggui anak mereka yang asyik bermain.
“Itu anak saya,” tunjuk ibu itu pada seorang anak lelaki yang memakai baju merah yang sedang main perosotan.
“Anak yang tampan,” ujar pria itu menghormati sang ibu. “Itu anak saya yang sedang bersepeda dengan baju putihnya,” tunjuknya berganti pada seorang anak perempuan yang sedang bersepeda.
Sang ibu pun mengangguk tersenyum.
Beberapa saat kemudian, pria itu melihat jam tangannya, lalu memanggil anaknya. “Putri, sudah saatnya kita pulang. Ayo….!”
Sang anak yang dipanggil Putri pun menghentikan sepedanya, “Lima menit lagi, Ayah. Bolehkan? Hanya lima menit lagi.”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum, mempersilakan anaknya untuk kembali bermain.
Setelah lima menit berlalu, pria itu kembali memanggil anaknya. “Sudah bisakah kita pergi, Putri?”
Putri pun langsung menjawab, “Lima menit lagi, Ayah. Hanya lima menit lagi.”
“Oke,” sahut pria itu tersenyum.
“Luar biasa,” ujar sang ibu yang dari tadi memperhatikan. “Rupanya Anda seorang ayah yang sabar,” lanjutnya.
Pria itu tersenyum dan berkata, “Kakaknya meninggal karena tertabrak mobil yang dikendarai oleh orangĀ mabuk tahun lalu saat ia bersepeda di dekat sini. Saya tidak pernah punya waktu untuk bermain dengannya saat itu, dan saya amat menyesalinya. Karena itulah saya tidak mau membuat kesalahan yang sama terhadap Putri.”
Pria itu menarik nafas dalam-dalam. “Mungkin Putri mengira dia mendapatkan jatah lima menit untuk mengendarai sepedanya. Tetapi sebetulnya, saya justru MENDAPATKAN lima menit untuk melihatnya bermain.”
Ya, hidup adalah sebuah pilihan. Jadi, sudahkah sobat baraya membuat pilihan yang benar?[]




Wednesday, 3. June 2009
bang ni blog yang baru…..
kasih komen dunk
Wednesday, 3. June 2009
cerita yg menyentuh..
Thursday, 4. June 2009
bagus ceritanya ^_^
Thursday, 4. June 2009
>> fajar : oke, otw….
>> anis : makasih, nis.
>> petra : iya, ceritanya bagus, bukan sayanya yang bagus … ^_^
Thursday, 4. June 2009
Salam
Aku juga jadi ikut bingung nih
Yang bagus ceritanya atau yang nulis ya?
Kayaknya dua-duanya bagus tuh
Salam
Thursday, 4. June 2009
jleb… nusuk banget…
keren!
Thursday, 4. June 2009
kayak judul lagu dangdut bang
keren!!
Thursday, 4. June 2009
makaih bang atas semangat yang telah diberikan…..
dengan ini aya adar baha tidak ada pekerjaan yang sia-sia…..
Monday, 8. June 2009
Thanks.
Monday, 8. June 2009
makasih bang buat komentarnya…..
Monday, 8. June 2009
yupz aq setuju jg……
ceritanya bagus bang…………
tuh menyindir para ortu yang banyak menghabiskan waktu dikantor dan menganggap uang bisa membahagiakan anak.
padahal sebenarnya kasih sayang orang tua itu lebih berharga dari apapun juga……
Thursday, 11. June 2009
>> eshape : Hehehehe, salam kembali.
>> senny : Asal jangan mati, Sen.
>> antown : Dangdut emang judulnya mantep2 ^_^
>> fajar : Sama2, Jar….
>> savowen : Semoga bisa mengingatkan….
Thursday, 11. June 2009
bener.. kadang kita baru menyadari kita mencintai ato membutuhkan seseorang setelah orang tidak ada..
Thursday, 11. June 2009
salam kenal kang. tulisannya mante
Friday, 12. June 2009
nice story bang!
bener2 menyentuh!
Friday, 12. June 2009
>> yorick : Begitulah, semoga ini menjadi pelajaran agar kita tidak seperti itu….
>> adi : Salam kenal juga. Makasih.
>> kanty : Semoga bermanfaat, Kanty.
Friday, 12. June 2009
wah ceritanya penuh makna bang, eh kang (bingung nyebutnya).
cerita yang bagus pasti di tulis sama orang yang keren pula heheh..
Saturday, 13. June 2009
>> rizal : Silakan panggil Bang saja. Thanks….
Saturday, 13. June 2009
bang aswi salam kenal, bagaimana kabar putri sekarang ?

mengena sekali dan bagus
bergabung tukeran link ya bang, say masih belajar menulis
mohon bimbinganya
terimakasih
Sunday, 14. June 2009
>> whisper girl : Salam kenal juga. Putri baik2 saja, kok ^_^
Yuk, belajar menulis bersama-sama….